Salam Indonesia!

Salam yg mempersatukan kita semua sebagai anak bangsa!

"Be Bold, Brave,Strong,Courageous,and Fearless"

I took from The Hanuman Factor by Anand Krishna. This is my Mantra, an open Mantra, No secret,nothing metaphoric or symbolic..

Minggu, 07 Februari 2010

The Gita of Management Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern

The Gita of Management
Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern

Judul : The Gita of Management
Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern
Pengarang : Anand Krishna
Tebal : 322 halaman + ix
Penerbit : PT Gramedia


Zaman telah berubah. Para eksekutif bisnis kini meninggalkan ajaran seni perang Sun Tzu.. dan beralih mengikuti petunjuk Bhagavad Gita yang penuh kedamaian….era Gordon Gekko, tokoh dalam film Wall Street, dengan bangga mengutip Sun Tzu telah pudar. Bhagavad Gita menggeser posisi the Art of War sebagai referensi managemen. (Business Week Indonesia 20-27 Desember 2006).

Anand Krishna adalah fenomena dalam republik ini. Puluhan bahkan hampir seratus karyanya mampu mengubah paradigma berpikir sebagian besar masyarakat Indonesia. Dengan karyanya dia mampu menyebarkan fragmen-fragmen kesadaran bagi siapa saja pembacanya baik di dalam negeri maupun di manca negara. Kali ini bukan saja mengangkat kekayaan budaya Nusantara yang terkandung dalam nilai-nilai Bhagavadgita, namun mengulasnya hingga memberikan suatu pemahaman yang secara simple dapat diterapkan dalam kegiatan bisnis bagi para eksekutif muda.

The Gita of Management panduan bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern ini adalah satu-satunya buku yang membahas kebijakan kuno dengan mengangkat nilai-nilai philosophy Budaya Nusantara untuk diterapkan dalam kegiatan bisnis masa kini. Pada awalnya kebijaksanaan spiritual kuno Bhagavadgita mungkin terdengar aneh untuk dijadikan panutan para manager masa kini yang terpacu angka.

Naskah kuno yang dikenal sebagai Song of the Divine One itu menceritakan percakapan Krishna dengan Arjuna (seorang ksatria yang tengah menghadapi krisis moral menghadapi sebuah perang besar yang menentukan). Sesungguhnya apa korelasinya sehingga kini para eksekutif Baratpun mulai beralih pada philosophy Bagavadgita ini? Salah satu pesan utamanya : pemimpin yang penuh pengertian seharusnya mampu menguasai segala dorongan ataupun emosi yang menutupi penilaian logis. Pemimpin yang baik itu tidak egois, mampu berinisiatif dan focus pada tugas ketimbang terobsesi dengan hasil atau perolehan finansial. Intinya mendahulukan tujuan sebelum diri sendiri. Nilai-nilai ini sangat bisa diterapkan dalam kepemimpinan korporat saat ini.

Di dalam dunia masyarakat, dimana hukum rimba masih berlaku, Sun Tzu adalah cahaya lilin yang dapat menerangi rimba itu. Sun Tzu mewakili manusia primordial, dimana hukum yang berlaku adalah fight or flight, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau melarikan diri dari medan laga. Dalam dunia bisnis mereka yang “mati-matian” berusaha untuk “mematikan” persaingan dan bahkan pesaing adalah wujud dari mekanisme psikologis fight or flight. Sun Tzu adalah Nabi bagi mereka yang percaya bahwa kekerasan hanya dapat dilawan dengan kekerasan bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan. Berbasiskan konsep dasar itu ia menyusun Seni Perang, untuk memberi kita kemenangan dan orang modern dengan antusias menerapkannya dalam bisnis. Disini penulis melihat pada saat itu perkembangan manusia dalam mengadopsi ide-ide Sun Tzu memang sesuai dengan kondisi dan perkembangan pada jamannya.

Dalam buku The Gita of Management ini penulis memberikan pemahamannya terhadap setiap ide-ide terbaik Sun Tzu dan bagaimana ide-ide tersebut berbeda dengan nilai-nilai dalam Bhagavadgita. Menurut Sun Tzu pengarang risalah managemen “The Art of War” yang sempat populer, kemenangan harus menjadi “Tujuan Utama” memenangi peperangan menyangkut disiplin pantang mundur. Agar termotivasi pasukan harus melihat adanya “Keuntungan jika berhasil mengalahkan musuh” Bagilah hasil rampasan dengan rekan sejawat dan anak buah. Berikan bagian dari daerah jajahan kepada mereka. 2000 tahun telah berlalu dan strategi Sun Tzu-pun masih diterapkan. Dengan selalu menaklukkan dan menciptakan market maka lambat laun akan merusak industri di tempat dimana strategi tersebut dijalankan. Hal inilah yang bertentangan dengan filosophy dalam Bagavadgita. Walaupun dalam buku ini penulis mengajak kita untuk tidak mempertentangkan karena sesungguhnya mereka tidak berdiri berhadapan, mereka tdak berseberangan.

Menurut Anand Krishna, Bhagavad Gita naskah kuno peradaban lembah Sungai Shindu bukan kita import dari India karena kita berada dalam satu wilayah peradaban yang memiliki akar budaya yang sama. Bhagavadgita yang sepertinya lebih sesuai dengan semangat masa kini, memuat kebijaksanaan Krishna. Ia lebih focus pada pikiran dan tindakan, bukan pada hasil. Berikut ini konsep Krishna: “Jangan pernah melakukan sesuatu hanya karena imbalan”, tutur Krishna. Tindakan yang dilakukan hanya demi hasrat duniawi akan berujung kegagalan. Lakukan sesuatu dengan baik. Dengan demikian hal-hal yang baik akan menjadi kenyataan. Setiap orang harus bekerja, tak seorangpun dapat menghindari pekerjaan. Dan seorang pekerja mesti berfikir pula. Tapi apa yang mesti dipikirkannya? ”Bukan hasil akhir, tetapi cara untuk melaksanakan tugasmu dengan baik” kata Sri Krishna. Sri Krishna memahami waktu sebagai kontinuitas. Apa yang biasa disebut ”masalalu” tidak terputuskan dari ”masa kini” apa yang disebut masa depan juga terkait dengan ”masa kini” walau tidak atau belum tampak bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu.

Al Gore mantan wakil presiden AS, mengatakan dalam film dokumenter The Inconvenient Truth, “Pandangan manusia tentang perang sudah harus berubah. Kebiasaan lama (perang) dengan menggunakan teknologi modern dapat menghancurkan seluruh peradaban”. Menyadari hal ini maka sungguh tepat apabila kita menggali kembali nilai-nilai yang tersirat dalam Bhagavadgita.

Anand Krishna dalam buku ini mengajak kita untuk sungguh-sungguh memahami falsafah dasar seni perang Sun Tzu ( Sun Tzu’s ”The Essensials of War” ) benar-benar sebagai sebuah falsafah seni perang yang tentunya diperuntukkan bagi insan militer dijamannya dan tidak sesuai jika diimplementasikan atau dikaitkan dengan managemen perusahaan masa kini. Dalam kata lain falsafah tersebut berisi tentang semangat berperang bukan Seni berbisnis. Adalah kecelakaan bagi umat manusia, bagi manusia modern bagi orang Indonesia yang belakangan ini lebih menggemari kebijakan Sun Tzu dalam hal bermanajemen, daripada mencari referensi dari khasanah budaya sendiri. karena sesungguhnya nilai-nilai luhur ini muncul dari kematangan jiwa suatu masyarakat dalam menghadapi setiap tantangan dalam hidupnya.

Tentu adalah sebuah kemerosotan dari kebijaksanaan klasik dan kita perlu naik kembali ke ketinggian kebijaksanaan Sri Krishna. Sri Krishna dan Bhagavad Gita berasal dari budaya kita sendiri dari budaya Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban Sindhu. Peradaban ini oleh para sejarawan Arab disebut Hindu, oleh Barat disebut Indo, Indies, Hindia, India, Indonesia, dan sebagainya. Dalam buku ini penulis tidak sedang berbicara tentang apa yang sekarang disebut “Agama Hindu” tetapi sedang berbicara tentang Budaya Indo, tentang nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kearifan lokal kita yang kita warisi di kepulauan Nusantara ini.

Satu hal yang sangat ditekankan oleh penulis dengan keadaan bangsa kita saat ini, kita menjadi besar bukan karena Sun Tzu. Kita menjadi besar karena nilai-nilai luhur kebudayaan kita, kearifan lokal kita. Lontar-lontar yang masih tersisa adalah bukti nyata akan kemegahan dan kebesaran kita di masa silam. Bukan saja kemegahan dan kebesaran materi tetapi juga rohani. Nilai-nilai yang telah menjadi fondasi bagi bangsa dan negara kita tercinta. Nilai-nilai yang tidak bisa tidak mengantar kita pada puncak kemegahan baru di masa mendatang. Jika kita belajar untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan, persis seperti yang dilakukan oleh alam, kita manjadi alami. Pengalaman kita menjadi sangat mirip dengan apa yang dialami oleh alam. Dan saat bersinergi itu, terjadilah ledakan dhasyat. Kita tercerahkan!

Saat itu kita menemukan jati diri kita bahwa keberadaan kita disini untuk menikmati, untuk merayakan, untuk menggunakan dan meneruskannya kepada orang lain bukan untuk memiliki. Alam terlalu besar dan terlalu halus untuk dimiliki. Bhagavad Gita tidak setuju dengan monopoli atau kepemilikan tunggal. Ia berpihak pada kolaborasi, kerjasama, atau yang disebut gotong royong oleh para foundhing fathers kita. Kolaborasi itu tidak diatur atas landasan yang kuat menentukan syarat tetapi atas landasan kesetaraan yang bersifat spiritual bukan materiil. Kesetaraan yang tidak tergantung pada pemicu-pemicu diluar diri tetapi pada kesadaran rohani di dalam diri.

Managemen Krishna mengajak kita untuk mengendalikan diri kita. Kata kunci adalah pengendalian diri. Hanya dengan pengendalian diri kita dapat menyelamatkan sumber alam kita, lingkungan kita, flora dan fauna kita, keindahan bumi kita hanya dengan pengendalian diri kita dapat menjamin keselamatan kita sebagai penghuni bumi ini. Selama ini kita menjarah bumi. Kita mengeksploitasi dan memperkosanya demi keuntungan materi. Bukti nyata akan keteledoran sekaligus ketololan kita adalah ketidak pedulian kita terhadap peningkatan panas bumj yang dapat mengantar kita kembali ke zaman es hanyalah pengendalian diri yang dapat menyelamatkan dunia kita. Tanpa pengendalian diri dunia ini akan hancur, tenggelam binasa lenyap.

Dalam buku ini Anand Krishna menunjukkan kekuatan management ala Sri Krishna adalah berkarya tanpa pamrih. Berkarya dengan semangat menyembah. Bukan ora et labora berdoa sambil berkarya atau berkarya sambil berdoa malainkan berkaryalah dengan semangat menyembah. Saat kita melakukan sesuatu dengan semangat menyembah hasilnya adalah kepuasan diri. Kita tidak merasa jenuh menjalani tugas kita, hidup kita. Seisi alam ini bekerja tanpa pamrih dan mereka semua puas. Mereka semua bersukacita. Membersihkan, menyejukkan, dan membasahi dan melarutkan menghanyutkan itulah tugas Air. Sudah jutaan tahun ia melakukan itu dan dia tak pernah mengeluh. Belajarlah dari mereka! Berkarya dengan semangat menyembah berarti ibadah. Inilah pemahaman Gita tentang ibadah. Krishna tidak menyuruh Arjuna untuk menutup diri dalam kamar. Ia juga tidak menyuruhnya untuk beribadah ramai-ramai di suatu tempat. Medan perang ini, panggung kehidupan ini adalah tempat ibadah. Berkarya diatas panggung inilah ibadah yang sebenarnya, berkaryalah tanpa pamrih. Pemahaman Krishna tentang doa, ibadah, semangat di baliknya dan cara pelaksanaannya memang unik. Dan kita sebagai pewaris budaya Nusantara telah mewarisi nilai-nilai ini dalam DNA kita. Bukan mustahil satu-satunya solusi yang ditawarkan dalam menghadapi globalisasi adalah dengan mengangkat kembali nilai-nilai luhur nusantara.

Glokalisasi adalah jawabannya, yang menurut penulis telah terjadi sejak jaman Sriwijaya. Seperti yang terjadi dalam kisah Mahabarata tidak terdapat cerita tentang Dewa Ruci. Itu adalah kearifan lokal kita. Jika dulu kalangan management banyak mengutip karya klasik China abad 6 SM The art of War, sekarang karya kuno dari Timur yang trendi adalah Bhagavadgita on Effective Leadership. Dari kompetisi ala Sun Tzu menjadi kolaborasi ala Krishna. Strategi bekerjasama atau gotong-royong ini akan membawa dampak yang baik pula bagi industri yang environment friendly seperti yang dikampanyekan Al gore.

Dalam buku inipun dirumuskan ciri-ciri seorang pemimpin versi gita dalam tiga butir atau Trisila kepemimpinan yaitu Sane Leadership, Effective and Efficient, Friendly Attitude. Dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, Anand Krishna meramunya untuk anda para eksekutif muda berwawasan modern, dan para pemimpin bangsa. Dalam sejarah bangsa, kita dapat menemukan sosok versi Gita ini dalam diri Bung Karno. Ia tidak membangun Indonesia untuk menjadi negeri tertutup seperti Cina di masalalu, tetapi negeri yang terbuka. Terbuka bagi kemajuan bagi perkembangan dan perubahan. Pancasila yang digalinya dari budaya asal Nusantarapun tidak memisahkan kita dari dunia malah mengangkat manusia Indonesia menjadi Warga Dunia. Perjuangan Bung Karno bagi Nusa dan Bangsa bagi Indonesia harus dilihat sebagai karya besarnya bagi dunia. Inilah ciri khas seorang pemimpin versi Gita. Ia bukanlah seorang pemimpin regional dengan agenda-agenda kecil dan sempit. Seorang pemimpin versi Gita akan mempersatukan dan bersifat universal.

Siapkah kita menjadi pemimpin bagi diri kita dan bagi masyarakat dunia? Siapkah kita untuk memasuki era baru dengan wawasan lebih luas lagi? Dikemas dengan gaya bahasa yang menarik, mudah dipahami dan berisi ulasan-ulasan yang sesuai dengan konteks masa kini, Anand Krishna menyajikanya untuk kita semua dan terutama bagi eksekutif muda berwawasan modern yang ingin menggali kembali dan membangkitkan kekayaan budaya Nusantara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar