Salam Indonesia!

Salam yg mempersatukan kita semua sebagai anak bangsa!

"Be Bold, Brave,Strong,Courageous,and Fearless"

I took from The Hanuman Factor by Anand Krishna. This is my Mantra, an open Mantra, No secret,nothing metaphoric or symbolic..

Minggu, 07 Februari 2010

Tertawa Itu Sehat! (30 Mei 2005)

Koran Tokoh, Denpasar
--------------------------------------
Tertawa Itu Sehat Terbahak 20 Detik = Jogging 3 Menit
MINGGU pagi, pukul 07.15. Tepat di depan pelataran Monumen Bajra Sandhi Renon
Denpasar, sekelompok orang tampak asyik tertawa. Tak jauh dari mereka, sebuah
karton berukuran tanggung bertuliskan, “Klub Ketawa. Silakan gabung, Pendaftaran
gratis.” Tak jelas apa yang ditertawakan, mereka terus saja terbahak-bahak.

“Bah…neh mara ye..onyangan suba buduh,” ujar seorang pemuda yang tengah
berolahraga kepada temannya. Tak urung, tulisan itu mengundang orang melirik ke
kumpulan orang yang sedang terpingkal-pingkal tadi. Komentar orang yang lewat
hampir sama; mereka gila. Begitu melihat karton, mereka langsung tersenyum.
Sebagian lagi memiringkan jari telunjuk di kening, tanda tak waras. Hanya
sedikit yang mampir lalu bergabung. Penasaran, Tokoh mendekati mereka. Tak
berselang lama, Tokoh disodori kertas dengan judul besar-besar: “Klub Ketawa.
Mari bergabung bersama kami.” Ajakan dari Anand Krishna Centre Denpasar.

“Semua orang perlu tertawa,” ujar Putu Sripuji Astuti yang biasa dipanggil
Chicha. Hidup dalam berbagai masalah sering membuat orang stres. Dengan mengajak
orang tertawa, Anand Krishna Centre berharap bisa melatih orang agar tak stres.
Makanya, sejak 27 Maret mereka membuat Klub Ketawa dan berlatih di tempat
terbuka agar diketahui publik. “Kami mengadakan di tempat yang sama. Jika orang
melihat terus menerus, lama-lama mereka pasti tertarik. Nggak masalah dibilang
gila dulu,” jelas Chicha.

Sepanjang satu jam di lapangan, mereka hanya tertawa. Tak masalah jika awalnya
terkesan dibuat-buat. “Setelah 15 menit, biasanya bisa ketawa beneran,” kata
wanita kelahiran Yogyakarta, 8 Maret 1976 itu. Lebih kurang 30 menit kemudian,
mereka akan menertawakan diri sendiri. “Saat itu kami sadar, begitu banyak
kebodohan yang kita buat sampai-sampai kita tak bisa tertawa. Bagus untuk
instrospeksi diri,” sambungnya.

Chicha tak salah berkata seperti itu. Pasalnya, banyak manfaat jika kita rajin
tertawa. Makin dewasa, orang makin perlu tertawa. Sayangnya, menurut pakar
tertawa dari Universitas Berlin, Prof. Gunther Sickl, orang dewasa makin lama
makin sedikit tertawa. Jika saat kanak-kanak bisa tertawa 400 kali sehari, orang
dewasa hanya tertawa 15 kali. Padahal, begitu banyak manfaat tertawa untuk orang
dewasa.

Beberapa penelitian ilmiah membuktikan manfaat tertawa. Peneliti dari University
of Maryland Medical Center di Baltimore mengungkapkan, orang-orang yang
berpenyakit jantung umumnya kurang tertawa dan tak menyukai humor dibandingkan
orang yang berjantung sehat. Ada pula penelitian yang dilakukan Loma Linda
University, California. Dr. Lee Berk mengukur efek tertawa terhadap kekebalan
tubuh. Ia membagi subjek menjadi dua kelompok: satu kelompok diberi tontonan
komedi yang mereka pilih sendiri, kelompok lainnya duduk tenang dalam sebuah
ruangan. Tiap orang dalam kelompok dihubungkan dengan alat monitor. Selama
pertunjukan dan setengah jam sesudahnya, contoh darah responden diambil tiap 10
menit.

Hasilnya, kelompok yang duduk tenang tak mengalami perubahan fisiologi.
Sebaliknya, kelompok yang menonton film komedi mengalami peningkatan di beberapa
ukuran fungsi imunitas: aktivitas sel T (penting untuk melawan infeksi),
pembunuh sel natural (yang berfungsi melawan tumor), antibodi imunoglobin A
(yang menjaga saluran pernapasan) dan interferon gamma (kunci dalam sistem
kekebalan tubuh).

Penelitian lain dilakukan psikiatris Arthur Stone dari State University of New
York di Stony Brook Medical School. Selama tiga bulan ia melibatkan 96 pria
untuk mengukur tingkat antibodi yang disinyalir sebagai benteng pertahanan
pertama terhadap virus demam dan flu. Tiap hari, kelompok itu diperiksa grafik
emosinya. Hasilnya, interaksi positif seperti menghibur teman atau bermain
bersama anak-anak berdampak pada peningkatan antibodi pria yang diteliti.
Berbeda jika saat dikritik di kantor atau sedang berdebat.

Tertawa rupanya menyebabkan tubuh berolahraga kardio yang membuat sistem
pernapasan bekerja lebih baik. Tertawa memunculkan pola napas yang khas yang
dapat menurunkan zat residu pernapasan yang tersisa di paru-paru dan
menggantikannya dengan udara yang kaya oksigen. Manfaatnya, tentu saja, dapat
menurunkan tingkat uap air dan karbondioksida dalam paru-paru yang secara tak
langsung mengurangi risiko infeksi paru-paru.

Tertawa terbahak-bahak selama satu menit sama dengan 45 menit olahraga yang
mengeluarkan keringat. Bahkan, tertawa selama 20 detik efeknya sama seperti tiga
menit mendayung atau jogging pada kerja jantung. Sekitar 80 otot digunakan
ketika kita tertawa sempurna sampai terpingkal-pingkal. Getaran yang dihasilkan
membuat jantung berdegub lebih kencang, tekanan darah naik dan tingkat oksigen
dalam darah yang dihasilkan naik bersamaan dengan akselerasi pernapasan.
Bagusnya, endorphin sebagai “obat penenang alami” yang diproduksi otak akan
melahirkan rasa nyaman. Usai tertawa, tekanan darah normal kembali, hormon stres
berkurang dan kekebalan tubuh meningkat.

Tertawa “dipaksa” atau tidak, efeknya tetap sama. “Pertama kali, kami memang
sengaja tertawa, tapi nantinya menghasilkan efek domino kok,” ujar Chicha. Di
luar negeri, saat ini klub tertawa sudah menjamur. Di Amerika Serikat dan
Kanada, sedikitnya ada 300-an klub tertawa. “Melalui klub tertawa ini Anand
Ashram hendak mengenalkan meditasi tertawa pada masyarakat,” sambungnya. Hidup
yang serba penuh tekanan ini mungkin bisa berkurang dengan banyak tertawa. – rat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar