Salam Indonesia!

Salam yg mempersatukan kita semua sebagai anak bangsa!

"Be Bold, Brave,Strong,Courageous,and Fearless"

I took from The Hanuman Factor by Anand Krishna. This is my Mantra, an open Mantra, No secret,nothing metaphoric or symbolic..

Minggu, 07 Februari 2010

Indonesia Under Attack! Membangkitkan kembali Jatidiri Bangsa (April 2008)

Indonesia Under Attack!
Membangkitkan kembali Jatidiri Bangsa


Judul : Indonesia Under Attack!
Membangkitkan kembali Jati diri Bangsa
Pengarang : Anand Krishna, plus dialog bersama Rusdy Ambo Dale &
Siswono Yudo Husodo
Tebal : 250 halaman + xxvi
Penerbit : PT One Earth Media

Pancasila adalah dasar yang kukuh dan universal, tidak saja bagi persatuan dan kesatuan bangsa tetapi juga bagi persatuan umat manusia. Tak usah heran jika Bung Karno dengan bangga mengusulkan di depan Sidang Majelis Umum PBB 30 September 1960 untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar dari Piagam PBB dalam pidatonya yang berjudul To Build The World A New. Apa yang membuat Pancasila sedemikian Universal? Tak lain adalah Cinta Kasih. Para pendiri bangsa kita adalah orang-orang yang tercerahkan. Para spiritualis yang tak lagi terkotak-kotak oleh perbedaan wujud. Mereka mengakui adanya perbedaan, tapi mereka dengan jelas mampu melihat persatuan di baliknya. Lebih jelas lagi mereka mampu memberikan solusinya bagi bangsa ini. Mereka sadar bahwa Indonesia yang kokoh harus dibangun di atas spiritualitas universal. Diatas Cinta Kasih.

Cinta kasih adalah dasar bagi Ketuhanan, Kemanusiaan, Kebangsaan, Kedaulatan Rakyat dan Keadilan Sosial yang kesemuanya terdapat dalam Pancasila. Hanya dengan terlebih dahulu memiliki Kasih, manusia-manusia Indonesia dapat bangkit dan mencapai kejayaan. Buku ini akan membuat anda sadar bahwa spiritualitas bukanlah hal yang mengawang-awang. Bahwa negeri inipun dibangun di atas dasar spiritualitas!

Semangat kebangsaan lahir karena cinta kita terhadap Ibu Pertiwi. Cinta, kasih yang tak berpamrih, inilah perekat kita sebagai bangsa. Kelak cinta ini akan menghantarkan kita semua kepada cinta terhadap Bumi ini terhadap bangsa-bangsa dan Negara-negara yang ada di bumi ini. Terhadap kehidupan di manapun ia berada. Seperti apakah itu cinta, kasih yang ada dalam buku ini, apakah sama dengan definisi cinta, kasih kita selama ini? Benarkah dapat mengatasi persoalan bangsa ini secara instant? Bagaimana aplikasinya dalam kehidupan kita sehari-hari? Bagaimana pula agar dapat dimengerti oleh semua orang dari wong cilik sampai wong besar? Temui semua jawabannya dalam buku ini dan diatas segalanya. Buku ini ditujukan kepada mereka yang cinta Indonesia dan bangga akan “Keindonesiaannya”, kepada mereka yang menerima Pancasila sebagai saripati budaya, sebagai akar, jati diri bangsa dan landasan satu-satunya untuk berbangsa dan bernegara.

Untuk menguasai satu bangsa, yang paling penting adalah harus mencabut akarnya. Upaya pencabutan akar ini terkadang dilakukan secara terang-terangan, terbuka. Kadang dilakukan secara diam-diam, tersembunyi. Upaya ini oleh para founding fathers Republik kita Roeslan Abdulgani disebut sebagai “Imperialisme Budaya”. Imperialisme di bidang Ekonomi bahkan sipil dan militer menjadi sangat mudah untuk di deteksi, bila dibandingkan dengan imperialisme yang terjadi di bidang budaya. Ini yang harus kita waspadai, karena sesungguhnya jati diri dan karakter building ini terbangun melalui landasan budaya. Tidak bisa tidak karena budaya memegang peranan yang sangat penting untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Ibu Pertiwi. Apabila akar ini tercabut, tinggal tunggu waktu untuk melihat kepunahan suatu peradaban.

Sudah barang tentu negara yang kacau akan dengan sangat mudah dijajah. Itulah yang diinginkan oleh Negara-negara lain yang ingin menguasai kekayaan alam Indonesia. Penjajahan yang dilakukan sekarang bukanlah penjajahan seperti tempo dulu, melainkan penjajahan budaya terlebih dahulu yang akan membuat kita terpisah dari akar budaya kita dan kehilangan jati diri kita, dan kemudian penjajahan ekonomipun terjadi. Dan bagaimana kita akan mengatakan bahwa ekonomilah akar permasalahan kita, Apabila mental masyarakat kita tidak terbenahi oleh pendidikan yang bewawasan budaya? Sangat mustahil membangun kesejahteraan ekonomi di atas landasan ekonomi yang dikuasai oleh Negara-negara lain. Saat inipun kita sudah menyerah di bidang perhubungan dan perbankan kepada Singapura, menyerah di bidang pertambangan dan perminyakan kepada Amerika dan sekutunya. Sekarang kita akan menyerahkan seluruh sisa hasil bumi yang kita miliki kepada para pedagang dari Timur Tengah. Inikah yang kita mau? Menjadi budak di Bumi Pertiwi ini? Dan tidak lagi memiliki kebebasan mengelola tanah air kita sendiri? Inikah yang disebut mandiri dibidang ekonomi, berdikari dibidang politik dan berkepribadian di bidang sosial?

Saat ini mau-tidak mau kita harus segera membangkitkan Nasionalisme ini di setiap kalangan masyarakat. Melalui pendidikan sejarah, melalui film-film dan lain-lain. Ideology Nasional menjadi penuh makna dan kedalaman, bukan sekedar tanggal dan peristiwa. Tidak dengan indoktrinasi, tetapi memunculkan rasa dengan melibatkan emosi mereka, sehingga muncul rasa kebangsaan yang membuat kita rela untuk berkorban bagi negeri ini dengan paham kebangsaan yang merupakan rumusan-rumusan untuk memandu negeri ini kearah ketahanan budaya yang kokoh.

Kecintaan ini yang harus tumbuh menjadi sikap patriotic, yaitu kesediaan untuk berkorban dan berkemampuan untuk membangun tanah air. Cintapun akan diikuti dengan kemampuan untuk berbuat sesuatu. Karena saat ini banyak orang berkemampuan tinggi tetapi tidak memiliki kecintaan kepada tanah air, sehingga segala kebijakkannya tidak berorientasi kepada kepentingan masyarakat, melainkan hanya kepada kepentingan kelompoknya., akhirnya hanya memeras Negara ini, menghabiskan hutan, tambang dan sebagainya. Tetapi rakyat yang Nasionalis akan belajar menghemat energi. Pemimpin dan pemerintahan yang Nasionalis akan memikirkan penghematan, bukan menghamburkan dan mengeksploitasi sisa sumber daya alam yang kita miliki, dan akan mengembangkan system transformasi massal yang memadai, sehingga akan menghemat energi. Tidak menggadaikan kekayaan alam kepada pihak-pihak lain, melainkan bekerjasama dalam kesetaraan.

Marilah kita seluruh bangsa berdasarkan kapasitas dan kompetensi kita masing-masing membangun negeri ini. Pembangunan negeri ini adalah sebuah proses yang tanpa akhir. Masalah kita adalah bahwa kita masih berhadapan dengan orang-orang yang “tidak menyadari” dan “tidak mau tahu” walaupun sangat cerdas, dan memiliki begitu banyak potensi. Terkadang kita terjebak dengan kecerdasan kita dan praktek implementasi dilapangan bertentangan dengan jiwa Nasionalis dan Pancasila yang sesungguhnya.

Ini menjadi tantangan kita semua untuk mengupayakannya untuk bekerja ke arah itu. Bila jiwa kita belum bebas dan masih diperbudak oleh doktrin-doktrin dan dogma-dogma yang telah usang, dan kita hidup dalam kecemasan dan ketakutan, bahkan setiap saat terjadi bunuh diri, maka hal itu menunjukkan kegagalan pemerintah, kegagalan pemimpin kita bersikap dan bertindak adil terhadap setiap warga Negara. Dan hal itu menunjukkan kegagalan kita sebagai rakyat Negara Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Kita semua telah gagal mengisi kemerdekaan kita dengan kebebasan yang bertanggung jawab. Sebagai rakyat kita gagal menciptakan pemimpin yang bijak, berwawasan luas dan tidak hanya mementingkan kedudukannya.

Dengan gaya penulisan yang sangat kreatif dibungkus oleh dialog-dialog imajiner, buku “Indonesia Under Attack Membangkitkan Kembali Jatidiri Bangsa ini”, akan menghapus setiap titik keraguan kita dalam membela dan mencintai Ibu Pertiwi. Buku ini akan memperlihatkan kondisi sebenarnya akan keadaan bangsa Indonesia yang ditutup-tutupi oleh mereka yang mencoba menghancurkan Negara ini, sekaligus juga membuat kita bangga akan keluhuran Budaya Indonesia, budaya yang penuh cinta kasih. Karena cinta kasih adalah satu-satunya solusi atas apa yang terjadi terhadap bangsa kita akhir-akhir ini. Berisi pula hasil dialog dalam diskusi-diskusi yang diadakan oleh National Integration Movement bersama Siswono Yudo Husodo dan Rusdy Ambo Dalle yang mengungkap fakta-fakta pengalaman hidup mereka yang tidak terungkap selama ini. Sekali lagi Kejayaan Indonesia sudah diambang pintu. Mari kita songsong kejayaan itu dengan penuh semangat dalam berkarya bagi Bumi Pertiwi ini. Indonesia Jaya!
back to top

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar