Salam Indonesia!

Salam yg mempersatukan kita semua sebagai anak bangsa!

"Be Bold, Brave,Strong,Courageous,and Fearless"

I took from The Hanuman Factor by Anand Krishna. This is my Mantra, an open Mantra, No secret,nothing metaphoric or symbolic..

Minggu, 07 Februari 2010

Hypermarket dan Perekonomian Masyarakat Bali (BaliPost 2007)

Opini in Balipost

Hypermarket dan Perekonomian Masyarakat Bali


Keberadaan Hypermarket Carrefour di Bali mengundang kekhawatiran dari perusahaan lokal. Assosiasi Pengusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) Bali sempat mendesak Disperindag agar menghentikan Carrefour di Bali. Menjawab keresahan itu, Seorang Corporate Affaairs Director Carrefour Indonesia mengatakan tidak perlu dikhawatirkan “ Pengalaman kami di tujuh kota di Indonesia membuktikan kami bisa hidup berdampingan, “. (Balipost, 17/02)

Bisakah hidup berdampingan?. Bisa, jika masih memiliki nurani. Masihkah ada nurani di hati kita? Siapa yang mau dibohongi? Belajar dari kenyataan yang terjadi di lapangan fakta memperlihatkan hidup berdampingan antara pasar modern seperti hypermarket dan pasar tradisonal seperti pasar Badung paling lama setahun, setelah itu kematian menjemput yang lemah. Hal itu sudah terjadi di Jabotabek, sebanyak 29 pasar tradisonal telah mati. Persaingan memang menjadi hal yang biasa dalam dunia bisnis, mati dan mematikan pun hal yang biasa. Selama masih memegang prisip bisnis utama ala Sun Tzu, “ Kemenangan harus menjadi tujuan utama “.

Perusahaan-perusahaan di mana pun berada bebas menentukan supplier mana yang akan dijadikan patnernya. Awalnya untuk menarik simpati masyarakat, penduduk daerah sekitarnya diterima bekerja dan supplier lokal di prioritaskan. Seiring dengan waktu berjalan dalam dunia dagang tidak ada mitra sejati, satu pihak diuntungkan lain pihak pasti dirugikan. Siapapun yang datang dan menawarkan harga termurah dialah yang akan jadi pemenangnya. Entah dia pemain lokal atau pemain asing, mereka biasanya tidak akan peduli.

Saat ini Cina menjadi pemenangnya, hampir di setiap hipermarket-hipermarket di manapun berada di seluruh dunia 80 % dikuasai oleh produk Cina. Semua barang yang di jual ada label made in Cina, di import dari Cina. Pertanyaannya, sampai berapa lamakah pemain-pemain atau supplier-supplier lokal mampu bertahan dan dipertahankan, tidak didepak keluar dengan alasan persaingan harga. Adakah jaminan untuk itu?.

Bali selama ini terjerumus oleh pembangunan yang hanya mendewakan materi, hal lain yang menjadi penyokong daya magis Bali terabaikan. Hal ini dapat kita buktikan, begitu bom jatuh 2 kali, kehidupan kita langsung luluh-lantak. Para wisatawan dengan mudahnya beralih ke Malaysia, Thailand, Vietnam dan Srilangka. Bali merana, masyarakat Bali menderita. Kenapa? tanya kenapa, karena Bali lupa akan Balinya. Bali kehilangan daya magisnya akibat pembangunan yang tidak selaras dengan alamnya.

Kalau kita berkunjung ke India, kita akan dapat merasakan betapa masih kentalnya aroma khas India masuk kesetiap sel-sel syaraf kita. Dari manusianya, Industrinya dan bangunan-bangunan disekitarnya begitu selaras, serasi dan seimbang dengan alam disana. India menawarkan India kepada setiap orang yang berkunjung kesana. India tidak menawarkan Mc Donal, KFC, Carrefour dan lain sebagainya. Yang mereka tawarkan adalah makanan khas India, Pasar khas India, Toko yang menjual kerajinan khas India, bangunan-bangunan khas India dan sebagiannya. Itu Istimewa, itulah daya magis India yang menarik jutaan manusia dari segala penjuru dunia.

Tamu-tamu yang datang seperti terhipnotis, merasakan suasana yang tidak akan mereka rasakan di tempat lain. Rasa itu masuk kedalam alam bahwa sadar mereka, setiap saat akan memunculkan kerinduan untuk datang dan datang lagi ketempat itu.

Bangunan Hypermarket seperti Carrefour banyak dimana-mana, hampir ada di setiap negara. Butuh pikiran yang jernih dan hati yang bersih untuk menjawab pertanyaan apakah Bali sebenarnya membutuhkan hipermarket itu? Apakah Turis yang berlibur ke Bali datang karena ingin melihat dan belanja di hypermarket. Adakah keistimewaan yang di dapat oleh Bali dengan adanya hipermarket itu.

Kalau kita sedikit sadar dan mau melihat jauh ke depan. Berapa banyak keuntungan yang didapat dan berapa banyak kerugian yang harus di tanggung oleh Bali. Sebandingkan hal itu? Adakah pelajaran penting yang dapat kita petik dari kejadian banjir dan ancaman pemanasan global yang kini banyak di khawatirkan masyarakat dunia. Kalau Bali, pemerintah dan masyarakatnya tidak sadar. Bali akan di tinggalkan oleh tamu-tamu yang mulai sadar akan dampak pembangunan yang tidak ramah lingkungan dan memberi kontribusi yang besar pada peningkatan pemanasan global seperti bangunan-bangunan hipermarket itu.

Bapak Anand Krishna-Tokoh spritual lintas agama memberikan kita sebuah renungan, yang patut kita renungkan bersama. Seorang petani dari Bedugul menanam sayur-mayur. Setelah panen, petani kita menjual sayur-mayurnya itu ke hipermarket, perusahaan milik orang asing. Lalu kita, masyarakat Bali yang membutuhkan sayur-mayur yang di tanam sendiri harus beli di hipermarket, perusahaan milik orang asing. Dan itu terjadi di daerah kita sendiri, di Bali. Sungguh tidak masuk akal dan betapa tidak sadarnya kita selama ini. Kita membutuhkan sebuah perusahaan broker asing untuk membeli sayur-mayur milik kita sendiri. Para pemilik hypermarket adalah pengusaha-pengusaha luar negeri yang sudah kaya raya dan kita perkaya lagi dengan memberikan izin kepada mereka untuk membangun hipermarket di Bali. Uang yang diperoleh dari semua keuntungan itupun akhirnya akan diboyong ke luar negeri. Bali sendiri dirugikan.

Pemerintah kita saat ini terikat oleh perjanjian Internasional (WTO) dan akibat hutang yang menumpuk tidak berdaya untuk menolaknya. Walaupun sebenarnya mungkin di hati kecil mereka menyadari hal ini. Tidak ada jalan lain, satu-satunya solusi yang ditawarkan oleh Bapak Anand Krishna adalah kekuatan rakyat. Kesadaran rakyat untuk tidak belanja ke ke tempat itu. Kesadaran karena apabila masyarakat berbelanja maka mematikan perekonomian masyarakat setempat. Dan masyarakat Bali adalah masyarakat yang sadar, dengan komitmen dan kesadarannya membangun Bali bersama-sama akan mampu melakukan hal itu. Kesadaran atau Viveka masyarakat inilah yang harus dibangun oleh setiap manusia Bali yang peduli akan kelangsungan Budaya Bali. Semua ini adalah tanggung jawab kita bersama. Sudah bukan saatnya lagi saling tuding dan membiarkan sesuatu terjadi tanpa kita bersuara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar